Kamis, 30 Agustus 2012

Alumni Bicara, Imagro Berkaca


Mas di IMAGRO jadi Penguatan Internal ya?
Iya dek emang kenapa ya..
Habis mas telah mengkaderisasi cinta di dalam hatiku~

Setahu saya sejarah adalah hal terpenting untuk dipelajari, walaupun saya sendiri sebenarnya muak belajar sejarah saat SMP dulu. Bagaimana tidak? Di zaman yang modern ini kita dulu harus mempelajari arca yang tampangnya menyeramkan dan cerita-cerita magis yang sebenarnya saya masih tidak percaya itu pernah terjadi di tanah air kita ini. Untuk itu muncul ide saya untuk mencari tahu sejarah IMAGRO lewat para alumni sukses yang tersebar di penjuru Indonesia sekaligus pembuktian kalau masuk Budidaya Pertanian (Buper) pasti nanti bisa sukses seperti Bapak Kokot Dananjoyo S., alumni Agronomi tahun 1991. Saat ini beliau bekerja di Bank Mutiara. Gak main-main posisinya loh, beliau sekarang menjabat sebagai Accounting Division Head (tau gak nang artinya?) yang posisinya hanya 1 level di bawah direksi. Mungkin pada bingung ya gimana sih caranya beliau menjadi sukses, yuk kita simak hasil percakapan saya dengan beliau.
Gedung International Financial Centre (tau gak nang artinya?) yang terletak di Jalan Jend. Sudirman, Jakarta adalah tempat dimana Pak Kokot bekerja di Bank Mutiara. Awalnya saya merasa canggung untuk bisa bertemu dengan beliau karena melihat posisinya yang sudah sangat tinggi di perusahaan tersebut. Namun karena memang tuntutan hawa nafsu untuk memenuhi hasrat ingin tahu dari dalam diri, saya mencoba memberanikan diri bertemu dengan beliau. Kesan hangat saat pertama kali saya bertemu beliau, sapaan ramahnya khas orang Jogja dan beberapa pertanyaan seputar perjalanan saya menuju kantor beliau cukup mencairkan suasana. Sampai akhirnya kita memulai percakapan yang ternyata pria berbadan tinggi kurus ini menggunakan subjek ‘lu-gue’. Saya sendiri bingung dan terjadi pergejolakan asmara dalam hati, apakah saya harus ikutan ‘lu-gue’ yang memang dalam lubuk hati paling dalam ini saya sebenarnya muak pake subjek ‘aku-kamu’ yang saat di Jakarta dipakai untuk yang pacaran saja. Man! Emang gw pacaran sama lu pada pake aku-kamu segala? Namun untuk menjaga norma di Jogja saya dengan terpaksa menggunakan aku-kamu. Tapi kembali ke cerita Pak Kokot ini ya, saya menggunakan subjek ‘saya’ dan beliau menggunakan subjek ‘lu-gue’. Memang terdengar freak tapi untung di bagian accounting (tau gak artinya nang?) sudah sepi jadi tidak ada yang memperhatikan.

Minggu, 12 Agustus 2012

Bertanya Saat Kuliah


Ada beberapa alasan mengapa seseorang bertanya saat berada di kelas kuliah.

1.  Karena memang benar benar tidak tahu materi yang diajarkan
Pada kasus ini, mahasiswa merasa ada bagian tertentu yang belum bisa dipahami sehingga butuh penjelasan lebih lanjut tentang materi tersebut.
2. Menyamakan persepsi
Mahasiswa sudah memiliki dasar pengetahuan tentang sebuah materi , dan ingin menyamakan pemahamannya dengan pemateri. Tujuannya adalah agar materi itu bisa dipahami dengan maksud yang sama, atau tidak terjadi multitafsir.
3. Bertanya untuk menguji batas pengetahuan si pemateri
Sebenarnya tipe ke-3 ini tidak baik untuk dicontoh karena memberi kesan memburu pemateri sampai  batas pengetahuan. Apakah itu dalam seminar ataupun presentasi kuliah (biasanya yang presentasi adalah teman kelas).

Beberapa manfaat yang bisa didapat saat kita mengajukan pertanyaan di kelas kuliah :

1. Mendapat penjelasan tambahan dari dosen
Jika kita mengajukan pertanyaan saat kuliah, hal yang belum kita pahami bisa menjadi lebih jelas dengan adanya tambahan uraian dari dosen.
2. Membantu teman yang semula tidak paham
Teman yang semula kurang paham akan suatu pokok bahasan bisa mengerti materi tersebut dengan adanya pertanyaan. Disamping itu juga bisa membantu teman yang tidak berani mengajukan pertanyaan.
3. Bertanya bisa meningkatkan nilaimu dihadapan siswa lain
Orang yang sering bertanya biasanya dianggaplebih banyak tau tentang hal yang ditanyakan. Tapi jangan asal bertanya karena orang akan menganggap caper (cari perhatian). Biasanya dosen juga senang dengan mahasiswa yang bertanya karena itu adalah salah satu indikator antusiasme mahasiswa dalam mengikuti kuliahnya.

Tapi, sebelum bertanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.  Persiapan materi
Sebelum mengajukan pertanyaan, kita harus punya basic  agar pertanyaan itu tidak ngambang , tapi fokus pada hal tertentu dan berkaitan dengan materi yang diajarkan atau yang dipresentasikan. Caranya adalah dengan mempelajarikembali materisebelumnya, atau mempelajarimateri yangakan diajarkan pada hari itu.
2. Sikap saat bertanya
Sikap atau teknik bertanya sangat penting untuk diperhatikan agar pemateri tidak merasa tersinggung, diserang, atau disudutkan. Salah satu caranya misalnya menggunakan kata”mohon “ atau “tolong”. Jika terkesan menyudutkan, bisa-bisa kita di-blacklist oleh pemateri di acara selanjutnya.
3. Berdiri, dan artikulasi
Sebelum bertanya, usahakan berdiri dan mengambil napas panjang,ucapkan dengan jelas, tapi jangan terburu-buru (ciri-ciriorang nervous:hal ini sering terjadi jika belum terbiasa bertanya) agar pemateri dan teman-teman di kelas bisa mendengar dengan jelas.
4. Bertanya saat diberi kesempatan
Pemateri (dosen) yang seperti ini adalah pemateri yang baik dan benar. Baik karena memberi kesempatan untuk bertanya, dan benar karena memang semestinya pemateri berlaku demikian. Kesempatan ke-2 adalah saat kuliah hampir selesai. Tanda-tandanya: pemateri membereskan kertas, mematikan laptop atau OHP(Overhead Projector).
Inspirasi dari fenomena sekitar.

Rujukan: Irkham,A.M. 2010.24 Cara Mendongkrak IPK.Pro You, Yogyakarta.

“Niatkanlah pertanyaan itu untuk kebaikan.” 
by Eka Putri Amdela, Pemuliaan Tanaman 2011.

Tarian Warna

Selamat malam Bupermania! Lama tak bersua rupanya. Oh ya, berhubung masih bulan Ramadhan, Agropersimagro.blogspot.com mengucapkan...
bagi Bupermania yang menjalani dan mohon maaf lahir dan batin :).
Bupermania, malam ini Agropersimagro.blogspot.com mau sharing sesuatu. Tadi tidak sengaja mengoprek email dan nemu kiriman dari Bupermania yang belum sempat terpublish. Maaf ya :)
So, ini ada puisi bagus dari Bella Vyatrisa, Agronomi 2011. Here it is.....